home

Senin

TGS ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI

ANALISA BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP VOLUME EKSPOR KOPI PROVINSI BALI PERIODE 1990 -2006




Perkembangan Volume Ekspor Kopi Bali,
Harga Rata-rata Ekspor Kopi, Kurs Dollar
Amerika Serikat dan Kebijakan Ekspor
Kopi Perdagangan internasional merupakan salah satu
aspek penting dalamperekonomian suatu negara.
Dalam situasi global tidak ada satu negara pun
yang tidak melakukan hubungan dagang dengan pihak
luar negeri, mengingat bahwa setiap negara tidak dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri secara efektif tanpa
bantuan negara lainnya.
Perdagangan luar negeri memiliki dampak yang
luas terhadap perekonomian suatu negara terutama di
negara berkembang dengan pendapatan yang rendah
yang tidak memungkinkan untuk melakukan akumulasi
tabungan dan modal. Perdagangan luar negeri
memberikan harapan bagi negara untuk bisa menutupi
kekurangan tabungan domestik yang diperlukan bagi
pembentukkan modal dalam rangka meningkatkan
produktivitas perekonomiannya. Apalagi mengingat
tujuan pembangunan millennium (MDGs) yang salah
satunya adalah menghapus kemiskinan absolut dan
kelaparan, sehinggasangatpentingbagi satunegarauntuk
melakukan hubungan dengan negara lain dalam rangka
memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakatnya.
Aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia,
khususnya ekspor sangat beragam, dimana keragaman
ekspor tersebut tercakup dalam ekspor dalam bentuk
migas dan non migas. Ekspor non migas adalah produk
ekspor andalan Indonesia, dimana Bali sebagai bagian
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan
wilayah yang secara geografis memang tidak begitu luas,
mampu menghasilkan produk ekspor yang menarik
perhatian konsumen luar negeri. Komoditas ekspor
utama ProvinsiBali dikelompokanmenjadi 5 komoditas,
yaitu: Pertama, komoditas ekspor hasil kerajinan yang
terdiri dari 16 jenis antara lain: kerajinan alat musik,
anyaman, batu padas, bambu, kayu, furniture, keramik,
terracotta, kerang, kulit, logam, lukisan, perak, rotan,
tulang dan kerajinan lain-lain; Kedua, komoditi ekspor
hasil industri yang terdiri dari enam komoditi, yaitu:
TPT, plastik, sepatu, tas, komponen rumah jadi dan ikan
dalam kaleng; Ketiga, komoditi ekspor hasil pertanian
atau perikanan yang terdiri dari 11 jenis, yaitu: burung
hidup, ikan tuna, lobster, ikan hias hidup, ikan nener,
sirip ikan hiu, kepiting, ikan kerapu, ikan kakap, rumput
laut dan buah-buahan; Keempat, komoditi-komoditi
hasil perkebunan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu: kopi,
panili dan kakao; Kelima, komoditi ekspor lain-lain,
seperti bunga, dupa dan rempah-rempah.
Salah satu produk ekspor utama Bali yang
berasal dari hasil perkebunan adalah kopi. Produksi
kopi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali. Namun,
beberapa tahun terakhir ini kontribusi dari volume
ekspor kopi cenderung sangat rendah bahkan sepanjang
tahun 2003-2006 kontribusi volume ekspor kopi terhadap
volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali hanya
kurang dari 10 persen saja. Kontribusi volume ekspor
kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi
Bali tahun 1990-2006 dapat dilihat dalam Tabel 1

Tabel 1 memperlihatkan bahwa, rata-rata
kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor
hasil perkebunan Provinsi Bali adalah sebesar 61,93
persen. Hal ini memperlihatkan betapa tingginya
kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor
perkebunan Provinsi Bali periode 1990-2006. Bahkan
sebelum periode tahun 2000 kontribusi volume ekspor
kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi
Bali selalu mencapai angka di atas 85 persen, dengan
angka tertinggi adalah pada tahun 1997 yaitu sebesar
96,12 persen, dan terendah adalah pada tahun 2005,
yaitu sebesar 4,59 persen.
Penurunan kontribusi volume ekspor kopi
terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi
Bali tersebut disebabkan karena perkembangan volume
ekspor kopi yang semakin menurun selama tahun 1990-
2006. Volume ekspor kopi Bali dari tahun ke tahun
berfluktuasi dan cenderung terus mengalami penurunan
jumlah ekspor.Hal ini dikarenakan harga kopi di pasaran
internasional masih sangat rendah serta kelesuan pasar
ikut menurunkan gairah para eksportir kopi, sebagai
akibat dari melimpahnya pasok, masih tingginya
stock di tangan traders, semakin ketatnya persaingan
antar negara produsen, para spekulan yang menekan
harga, serta faktor ekonomi-politis lainnya. Tingkat
perkembangan volume ekspor kopi Bali rata-rata minus
12,09 persen per tahun, ekspor tertinggi terjadi pada
tahun 1996 yaitu sebesar 147,35 persen atau naik sebesar
1.534.351 kg dari periode sebelumnya, sejalan dengan
meningkatnya permintaan terhadap kopi khususnya dari
Uni Eropa dan Jepang. Sedangkan penurunan volume
ekspor kopi provinsi Bali terjadi pada tahun 2002 yaitu
sebesar minus 96,03 persen atau turun sebesar 107.645
kg. Hal ini diakibatkan adanya serangan busuk batang
yang menyerbu ke hampir seluruh areal perkebunan
komoditas tersebut sehingga pengiriman komoditas
itu ke mancanegara menjadi terhenti. Di samping itu,
karena hasil produksi kopi Bali tidak semuanya di ekspor
ke luar negeri, melainkan juga diperdagangkan di dalam
negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Naik turunnya volume ekspor kopi sangat
dipengaruhi oleh naik turunnya harga ekspor dari
kopi itu sendiri, dimana semakin tinggi harga ekspor
kopi maka volume ekspor kopi pun akan menjadi
semakin tinggi dan semakin rendah harga ekspor kopi
akan menyebabkan volume ekspor kopi pun akan
menjadi semakin rendah. Harga ekspor kopi Provinsi
Bali periode 1990-2006 mengalami fluktuasi, dengan
rata-rata perkembangan adalah sebesar 41,34 persen.
Perkembangan harga ekspor kopi yang tertinggi terjadi
pada tahun 2002, sebesar 360,84 persen sedangkan
terendah pada tahun 1997 yaitu sebesar minus 59,55
persen. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan
maupun penurunan terhadap biaya produksi dari kopi,
yang berimbas pada kenaikan dan penurunan harga
ekspor kopi.
Ekspor kopi Bali yang memberikan sumbangan
besar terhadap penerimaan devisa Provinsi Bali, tidak
bisa terlepas dari penggunaan alat tukar (valuta asing)
yang bertujuanmempermudah terjadinya transaksi antar
Negara (internasional). Kurs valuta asing dalam hal
ini adalah dollar Amerika Serikat sangat berpengaruh
terhadap perkembangan perdagangan. Perkembangan
nilai kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah
dari tahun 1990 – 2006 mengalami fluktuasi dengan
rata-rata perkembangan adalah sebesar 13,17 persen.
Perkembangan nilai kurs dollar Amerika Serikat yang
terbesar terjadi pada tahun 1997 sebesar 95,13 persen
dengan nilai kurs mencapai Rp 4.650,- / US $ daritahun sebelumnya sebesar Rp 2.383,- / US $. Namun
terjadi penurunan terbesar nilai kurs dollar Amerika
Serikat pada tahun 2002 dengan nilai Rp 8.940,- / US $
dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10.400,- / US $ atau
penurunannya sebesar 14,04 persen. Penurunan nilai
kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah ini lebih
disebabkan karena kondisi perekonomian Indonesia
yang sudah semakin membaik pasca krisis ekonomi
yang melanda Indonesia di tahun 1997.
Pengaturan terhadap ekspor kopi sendiri secara
spesifik tertuang dalam International Coffee Agreement
(ICA) tahun 1994. Dengan kebijakan ini, maka tidak
lagi ditemukan adanya sistem kuota, price control serta
intervensi pasar. Atau dengan kata lain seluruh kegiatan
ekspor kopi diserahkan pada suatu mekanisme pasar,
sehingga negara-negara pengekspor kopi dapat bersaing
baik dalam mutu maupun dalam merebut pangsa pasar
internasional.
Setelah pemberlakuan ICA-1994 volume ekspor
kopi Provinsi Bali cenderung mengalami penurunan
setiap tahunnya. Kopi Bali yang memiliki mutu yang
lebih rendah, menyebabkan kopi Bali menjadi kalah
bersaing dengan negara-negara pengekspor kopi
lainnya yang memiliki mutu kopi yang lebih baik.
Sehingga hal tersebut menyebabkan volume ekspor kopi
Provinsi Bali cenderung mengalami penurunan setelah
diberlakukannya kebijakan tersebut pada tahun 1994.




Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat
ditarik simpulan bahwa harga rata-rata ekspor kopi,
kurs dollar Amerika Serikat dan kebijakan ekspor
kopi secara serempak berpengaruh signifikan terhadap
volume ekspor kopi Provinsi Bali periode 1990-
2006. Pada periode yang sama kedua varibel bebas
tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap
volume ekspor kopi Provinsi Bali periode 1990-2006,
dengan volume ekspor sesudah kebijakan ekspor lebih
rendah daripada periode sebelum kebijakan ekspor
diberlakukan. Variabel Kurs dollar Amerika Serikat
merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh
terhadap volume ekspor kopi Provinsi Bali periode
1990-2006 dan nilai Standardized Coefficients Beta
dari kebijakan ekspor kopi adalah sebesar –0,831 yang
merupakan nilai absolut Standardized Coefficients
Beta yang tertinggi jika dibandingkan dengan nilai
Standardized Coefficients Beta dari variabel lainnya.
Mengingat kegiatan ekspor kopi Bali sangat peka
terhadap isu negatif (seperti kopi Bali tercemarmercury,
dan lain-lain), disarankan kepada pemerintah untuk
memperhatikan variable-varibel harga rata-rata ekspor
kopi, kurs dollar Amerika Serikat dan kebijakan ekspor
dalam mengambil kebijakan, sehingga tetap dapat
meningkatkan penerimaan devisa bagi Provinsi Bali
yang bersumber dari ekspor kopi. Peningkatan kualitas
kopi juga perlu terus dilakukan untuk meningkatkan
daya saing kopi Bali di pasaran Internasional. Kegiatan
bimbingan dan penyuluhan kepada petani kopi perlu
diintefsifkan, karena dalam budi daya kopi selain
dibutuhkan keterampilan dan pengalaman juga dituntut
ketekunan dan ketelitian dalam penanganannya. Dan
bagi pihak eksportir Kopi Bali perlu menjalin kerjasama
dengan Pemerintah atau instansi-instansi teknis terkait,
dan eksportir-eksportir lainnya untuk memperluas
pangsa pasar komoditas kopi di mancanegara melalui
Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) atau
perwakilan importir di atas perdagangan dan Pusat
Perdagangan Indonesia.







NAMA  :  ARI SASTIA ASMARANI
KELAS : 2EB08
NPM    : 20209070

Tidak ada komentar:

Posting Komentar